Soekarno: Orator, Proklamator, dan Presiden Pertama RI

923
Soekarno atau Bung Karno (Sumber: kompasiana.com)

1001indonesia.net – Siapa tak mengenal Soekarno? Seorang orator, proklamator, dan presiden pertama Indonesia. Di bawah kepemimpinannya, Indonesia berhasil memerdekakan diri. Perjuangan presiden parlente ini juga menginspirasi gerakan-gerakan kebangsaan, baik di tanah air maupun di banyak negara lain.

Soekarno lahir pada 6 Juni 1901 dari pasangan Raden Soekemi Sostrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai. Awalnya, ia diberi nama Kusno Sosro, namun karena sering sakit-sakitan, berdasarkan kepercayaan yang ada, namanya diubah menjadi Soekarno.

Perkenalan Soekarno dengan dunia politik dimulai sejak usia muda, saat ia berumur 14 tahun. Di usia itu, ia bersekolah di HBS (Hoogere Burger School) di Surabaya. Di saat bersekolah itulah ia kemudian bergabung dengan gerakan pemuda Jong Java. Kegiatan politik remaja itu kemudian berkembang saat ia berkenalan dengan tokoh-tokoh Sarekat Islam yang saat itu dipimpin oleh Tjokroaminoto.

Tamat HBS, tahun 1920, Soekarno melanjutkan ke Technische Hoge School (sekarang ITB) di Bandung, dan berhasil menamatkan studinya pada 1925. Di Bandung, Soekarno berinteraksi dengan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia. Ia pun menjalin relasi dengan Tjipto Mangunkusumo dan Dr. Douwes Dekker, yang saat itu merupakan pemimpin organisasi National Indische Partij.

Sejak muda, Soekarno memang memiliki semangat nasionalisme tinggi yang membuatnya sering kali masuk bui karena tindakannya dinilai subversif dan merongrong pemerintah kolonial Belanda. Setidaknya tercatat penangkapan diri Soekarno karena aktivitas politiknya bersama Partai Nasionalis Indonesia pada bulan Desember 1929 hingga dibebaskan pada 31 Desember 1931. Pada masa ini muncul sebuah pledoi yang fenomenal dan menjadi inspirasi gerakan perjuangan Indonesia, yang berjudul “Indonesia Menggugat.” Setelah itu, Soekarno kembali ditangkap dan diasingkan ke Flores pada Agustus 1933. Ia dibebaskan saat Jepang mulai menjajah Indonesia pada 1942.

Di masa pendudukan Jepang, Soekarno merupakan salah satu aktivis kemerdekaan yang dilirik Jepang untuk menarik simpati rakyat. Namun demikian, cita-cita sang aktivis muda ini tidak pernah berubah untuk memerdekakan bangsanya. Ia pun aktif dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Hingga akhirnya, bersama Mohammad Hatta ia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Sebagai seorang aktivis dan pemimpin bangsa, Soekarno juga aktif dalam menyusun Undang-Undang Dasar bagi negara Indonesia, selain itu ia juga pencetus dasar negara yang dinamakan Pancasila.

Di masa pemerintahan Soekarno, Indonesia sebagai bangsa yang baru berdiri tak lepas dari upaya perpecahan dan pemberontakan. Namun, nama besar Soekarno selalu bisa menjadi pemersatu untuk bangsa Indonesia. Tengoklah peristiwa pemberontakan DI-TII, Permesta, dan PKI yang pernah ada di awal republik ini berdiri. Semua pemberontakan itu bisa digagalkan bukan hanya karena kekuatan militer Indonesia saat itu, melainkan karena pesona Soekarno sebagai seorang nasionalis yang memiliki pengaruh cukup kuat di hati masyarakat.

Di dalam percaturan politik pun Soekarno tampak sebagai batu penjuru yang menjaga keseimbangan kekuatan massa saat itu. Terlihat konflik antarmassa komunis, Islam dan nasionalis, bahkan militer tidak pernah dijumpai pada level yang membahayakan kebangsaan rakyat. Soekarno terbukti sebagai pemersatu rakyat Indonesia dari berbagai golongan dan kepentingan pada saat itu.

Untuk percaturan politik dunia yang bebas aktif, Soekarno juga aktif menjalin hubungan dengan negara-negara lain, terlepas dari blok mana negara itu. Di masa pemerintahannya, ia banyak mengunjungi pemimpin-pemimpin negara lain. Di antara pemimpin-pemimpin negara itu adalah John Fitzgerald Kennedy dari Amerika, Nikita Khrushchev dari Uni Soviet, Fidel Castro dari Kuba dan Mao Tse Tung dari Tiongkok. Kekuatan negara-negara besar dalam blok Barat dan blok Timur pun memandang Indonesia sebagai kekuatan yang perlu diperhitungkan. Blok Barat tidak menginginkan Indonesia menjadi simpatisan blok Timur dan sebaliknya blok Timur tidak menginginkan Indonesia bergabung dengan Barat. Peran Soekarno sebagai pemimpin memainkan peran sentral dengan menjaga keseimbangan kekuatan besar yang bertikai untuk kepentingan posisi tawar Indonesia di dunia internasional.

Meski memiliki nama besar dan karisma, toh sebuah kekuasaan harus berakhir. Pemberontakan demi pemberontakan yang merongrong bangsa Indonesia akhirnya memuncak pada pemberontakan 30 September 1965, di mana Soekarno akhirnya harus lengser dan digantikan Soeharto.

Soekarno meninggal pada 21 Juni 1970 di wisma Yaso, Jakarta. Jasad sang pemimpin karismatik, proklamator dan penyambung lidah rakyat ini kemudian dimakamkan di Blitar, Jawa Timur. Meski telah tiada, nama Soekarno tampak tak pernah lepas dari rakyat Indonesia. Makamnya selalu ramai dikunjungi orang. Bahkan saat memperingati hari lahir dan kematiannya, ribuan orang ramai mendatangi makam tersebut.

Pemikiran besar Soekarno adalah gagasannya tentang dasar negara atau “Philosopische grondslag” Indonesia yang dinamakannya Pancasila. Pancasila yang lahir pada 1 Juni 1945, telah menjadi landasan bangsa Indonesia dalam bernegara.

Selain gagasan-gagasan yang dipikirkan Soekarno, proklamasi kemerdekaan yang dilakukannya pada 17 Agustus 1945, telah mengangkat derajat Indonesia sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat.  Indonesia pun kemudian menjadi negara yang diperhitungkan di panggung internasional. Kebesaran nama Soekarno di mata rakyat Indonesia tidak pernah pudar, meskipun telah terjadi pergantian presiden dari masa ke masa. Karisma Soekarno sebagai seorang pemimpin tampak tak pernah pudar dari hati rakyatnya.

Di mata Internasional pun nama Soekarno tampak tak pernah terlupakan. Perannya dalam menggagas gerakan Non-Blok pada KAA 1955, telah menginspirasi bangsa-bangsa di Asia dan Afrika untuk memerdekakan diri dan turut serta dalam menciptakan perdamaian di dunia.

LEAVE A REPLY

one × 2 =