Siti Manggopoh, Pejuang Perintis Kemerdekaan dari Nagari

oleh Siti Muniroh

259
Ilustrasi (Foto: berdikarionline.com)

1001indonesia.net – Sekitar seratus tahun yang lalu, seorang perempuan cantik memimpin Perang Belasting. Bagi serdadu Belanda yang bermarkas di Nagari Manggopoh, perang ini begitu mengerikan; 53 dari 55 tentara yang ada di sana meregang nyawa. Pejuang wanita tersebut bernama Siti atau yang dikenal sebagai Siti Manggopoh.

Manggopoh adalah sebuah kenagarian di Sumatera Barat. Tepatnya berada di Kecamatan Luhak Basung, Kabupaten Agam.  Daerah ini merupakan salah satu kenagarian tertua di Agam. Tiga nagari lainnya adalah Bawan, Tiku, dan Garagahan.

Nagari Manggopoh menjadi tempat kelahiran Siti dari sepasang suami istri bernama Sutan Tariak dan Mak Kipap. Di keluarga tersebut, ia menjadi anak perempuan satu-satunya. Lima saudaranya semuanya laki-laki. Dalam adat Sumatera Barat yang matrilineal, mendapatkan anak perempuan adalah suatu kebanggaan.

[Baca juga: Matrilinealitas Minangkabau dan Budaya Merantau]

Dengan 5 saudara laki-lakinya, Siti tumbuh berkembang dalam suasana yang maskulin. Ia ikut pergi ke sawah, belajar di surau, dan bahkan besilek (latihan silat) di gelanggang persilatan.

Ia sebenarnya memiliki teman-teman perempuan. Ia juga sering pergi ke pasar dan ikut mempelajari bapasambahan, yakni keterampilan-keterampilan yang digeluti kaum perempuan di daerahnya. Namun, karena ia lebih sering menghabiskan waktunya bersama kakak-kakak lelakinya, Siti kian menjadi pribadi yang berani.

Perang Belasting

Di tahun 1908, penjajah Belanda menerapkan pajak uang (belasting). Hal ini membangkitkan rasa muak kaum Ninik Mamak, alim ulama, cerdik pandai, dan rakyat Kanagarian Manggopoh. Ketetapan yang dibuat pemerintah Hindia Belanda itu dianggap bertentangan dengan adat Minangkabau, di mana tanah adalah kepunyaan komunal atau kaum di Minangkabau.

Tidak hanya itu, kelakuan tidak senonoh para serdadu Belanda semakin memperuncing masalah. Mereka menggoda istri orang, mengganggu perempuan yang mandi dan mencuci di Batang Antokan dan Kalulutan yang mengapit Negeri Manggopoh.

Segera kalangan sesepuh masyarakat Manggopoh, termasuk Siti dan suaminya, mengadakan rapat. Siti segera mengumpulkan teman-teman seperguruannya di persilatan, sementara suaminya menghubungi para guru silat dan orang-orang yang dituakan. Rapat ini berisi pembicaraan mengenai strategi perlawanan terhadap Belanda.

Di samping terlibat dalam rapat-rapat tersebut, Siti dan suaminya juga mempersiapkan senjata tajam, seperti keris dan juga golok yang disebut rudus atau ladiang.

Strategi Perlawanan

Mula-mula Siti dan beberapa kawannya berusaha mencari informasi tentang seberapa besar kekuatan Belanda di daerahnya. Dengan keberaniannya, Siti sempat terjun langsung memata-matai pasukan Belanda. Dengan cara menjalin persahabatan dengan para prajurit dan para petingginya, ia menyelidiki kondisi pasukan Belanda.

Dengan daya pikat dari parasnya yang cantik, Siti bebas dan leluasa keluar masuk pos Belanda dengan menyamar sebagai perempuan desa yang lugu. Setelah itu, ia menggali informasi yang dibutuhkan.

Suatu kali, ia sempat ditanya oleh komandan Belanda. “Kamu kenal Dullah?”

“Dia miskin, tidak mungkin mampu membayar Belasting,” jawabnya.

Si Komandan tidak meresponsnya dan malah memperlihatkan senjata-senjata baru yang banyak dengan sikap bangga dan tanpa curiga. Dari senjata-senjata yang diperlihatkan itulah Siti tahu jumlah serdadu Belanda di Manggopoh sebanyak 55 orang.

Ia pun tahu bahwa Belanda hendak menangkap penduduk yang tidak membayar pajak. Entah untuk dipenjarakan atau dibunuh. Di antaranya adalah Dullah, temannya.

Setelah dirasa cukup, Siti kembali ke teman-temannya. Siti kemudian mengumpulkan para tokoh adat dan cerdik pandai untuk bermusyawarah. Pertemuan ini dipimpin oleh Pakcik Tuanku Padang, ulama asal Padang yang dianggap sebgai Urang Sumando (sebuah kekerabatan) oleh masyarakat Manggopoh. Mereka kemudian sepakat untuk mengajak masyarakat Kamang bergabung. Maka ditunjuklah Majo Ali untuk menemui Ninik Mamak masyarakat tersebut.

Selanjutnya dibentuklah pasukan Inti yang terdiri dari 17 orang yang dipimpin langsung oleh Siti. Mereka berkumpul di Padang Mardani untuk merencanakan penyerbuan ke markas Belanda.

Padang Mardani adalah daerah yang angker karena dikelilingi oleh pekuburan dan pepohonan besar yang lebat. Bila malam tiba, padang ini berkabut tebal.

Demi merahasiakan tempat berkumpul itu, Pasukan 17 membuat kawasan itu menjadi tampak semakin seram. Jika pasukan Belanda lewat di malam hari, beberapa pasukan Siti bergelantungan di pohon berselimutkan kain putih mirip hantu. Tak jarang para serdadu Belanda itu lari tunggang langgang.

Amat disayangkan, terdapat dua warga Manggopoh yang berkhianat. Pada 14 Juni 1908, keberadaan Pasukan 17 tercium oleh Belanda. Belakangan Belanda juga tahu kalau Siti telah memata-matai mereka.

Hubungan erat antara Siti, Dullah, dan Majo Ali (incaran Belanda) juga ketahuan. Dengan tuduhan menghasut warga Manggopoh agar tidak membayar pajak, Belanda mengumumkan pencarian terhadap orang bertiga ini untuk ditangkap.

Mula-mula Belanda mengepung rumah Dullah, tapi ia tidak ditemukan. Sebagai gantinya, Belanda lalu menangkap Lipah, istri Dullah, serta sebilah tombak dan kerisnya. Belanda lalu mendatangi rumah Majo Ali, namun tidak ditemukan karena ia masih berada di Nagari Kamang. Belanda pun menyandera Lilah, adik kandung perempuan Majo Ali.

Mereka lanjut dengan menggerebek rumah Siti dan Rasyid. Tapi juga tidak menemukan siapa-siapa. Sebenarnya ada Siti saat itu namun ia tengah mengambil air di Sumur belakang rumahnya, sementara Rasyid sedang mengantar Padi ke Kincir.

Siti sendiri mendengar keluarganya akan ditangkap. Segera ia mengungsikan mereka (orangtua dan dua orang anaknya) di sebuah pondok di Padang Mardani. Siti sendiri bersama suaminya di pondok lain, jauh masuk di dalam hutan Padang Mardani.

Ketika mereka mengungsi itulah, yakni pada Rabu sore, 14 Juni 1908, warga Kamang melancarkan serangan dahsyat terhadap pasukan Belanda. Dalam peperangan yang disebut sebagai perang Basosoh ini, Majo Ali tampil gagah berani dengan keris di tangan. Di belakang hari, ia digelari “Putra Manggopoh Aceh Pidie”  karena keberaniannya menyerupai perlawanan pejuang Aceh melawan Belanda.

Penyerangan dilanjutkan esok harinya oleh Pasukan Siti yang dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari Siti, Rasyid, Majo Ali, dan Dullah. Tugasnya masuk ke dalam markas Belanda. Kelompok kedua, berjumlah 10 orang, bertugas menjaga semua jendela dan pintu markas agar tidak sampai ada serdadu Belanda yang lolos.

Kira-kira pukul 20.30, pasukan Siti sampai di kampung Parit, tempat strategis untuk mengatur siasat dan berlindung. Seorang di antara mereka diutus untuk mengamati situasi markas Belanda. Tak beberapa lama, utusan itu kembali dengan mengatakan bahwa pasukan Belanda telah tidur. Siti dan pasukannya berangkat mendekati markas Belanda.

Tepat pukul 22.00, mereka mengepung markas Belanda, namun baru setelah dua jam kemudian mereka dapat mendekat. Diawali oleh kelompok pertama, Siti dan Majo Ali menyelinap ke dalam markas, disusul Rasyid dan Dullah. Kelompok kedua, tinggal di luar, mengamati jendela dan pintu agar tidak ada serdadu Belanda yang lolos.

Majo Ali berniat untuk memadamkan semua lampu. Ketika ia membuka pintu kamar Komandan pasukan Belanda dan hendak mematikan lampu, sang komandan terbangun dan langsung menyerang. Majo Ali tak sempat mengelak. Lehernya tercekik.

Melihat itu, Siti segera menyerang si Komandan. Dia memukul punggung si Komandan dengan ujung rudusnya, dan Majo Ali pun terselamatkan. Namun, Siti kemudian terdesak. Ketika rudusnya menyabet lampu hingga ruangan menjadi gelap, ia langsung menusuk perut si Komandan hingga tewas seketika.

Satu per satu serdadu Belanda pun berjatuhan. Suasana menjadi hening. Pasukan 17 mengira pasukan Belanda yang berjumlah 55 orang sudah mati semua. Saat mereka melangkah pulang, tiba-tiba terdengar rentetan tembakan. Pasukan Siti berlarian menyelamatkan diri. Namun malang bagi Siti, dia tertembak di punggung kanan atas. Sementara suaminya, Rasyid, tertembak di selangkangan.

Ternyata masih ada dua serdadu Belanda yang masih hidup. Keesokan harinya, kedua serdadu itu melaporkan penyerangan tersebut ke markas Belanda di Lubuk Basung. Belanda segera mengirim bala bantuan dari Pariaman dan Bukit tinggi untuk mengamankan Manggopoh. Sejak itulah suasana di Manggopoh mencekam.

Para pemuka masyarakat, Ninik Mamak Manggopoh, ditangkap dan dipenjarakan di Lubuk Basung. Sementara warga Manggopoh mengurung diri di rumah atau mengungsi ke hutan. Manggopoh pun dijadikan daerah tertutup. Penduduk dilarang keluar masuk Manggopoh. Siapapun yang mencurigakan akan ditangkap, yang melawan, langsung tembak di tempat.

Akan halnya Siti dan Rasyid yang tertembak, mereka pulang berpisah jalan. Sampai di pondokan orangtua dan anak-anaknya, Siti langsung menggendong Dalima, anaknya yang masih berusia dua tahun, sementara tangan kirinya membelai kepala Tamam yang duduk di sampingnya. Siti menyusui Dalima. Darah yang terus mengucur dari luka di punggungnya tak ia perdulikan. Tak berapa lama, muncul seorang Nelayan bernama Saibun, memberi tahu bahwa Rasyid bersembunyi di seberang sungai Antokan.

Ia menawarkan diri mengantarkan Siti menemui Rasyid. Siti pun berangkat menemui Rasyid dengan menggendong Dalima. Setelah menyeberangi sungai Antokan dengan Perahu Saibun, Siti melihat Rasyid melambaikan tangan dari sebuah pondok kecil nun di kejauhan. Dengan susah payah Rasyid lari mendekat. Namun, karena banyak mengeluarkan darah, ia roboh tepat di hadapan Siti.

Siti segera merawat luka suaminya di pondok kecil itu. Tak berapa lama Rasyid siuman. Mereka menetap di pondok Saibun selama tiga hari, lalu pulang melewati hutan belukar. Mereka berjalan di siang hari. Di malam hari, mereka beristirahat, tidur di bawah pohon besar.

Sampailah mereka di sebuah ladang milik seorang lelaki tua dan menginap semalam. Dari petani tua itu mereka tahu bahwa keadaan di Manggopoh semakin buruk. Petani itu juga bercerita kalau Belanda telah mengumumkan akan memberi hadiah besar kepada siapa pun yang berhasil memberi tahu tempat persembunyian Siti dan Rasyid.

Sementara itu, Tuanku Padang yang tidak ikut dalam penyerangan karena tengah berada di Padang, merasa geram. Sehari setelah penyerangan yang dilakukan oleh Pasukan 17, pada pukul 20.00 ia menyerang markas Belanda dibantu Unik dan Kana. Tapi mereka bertiga gugur. Segera setelah itu, Nagari Manggopoh dibumihanguskan oleh Belanda.

Adapun Majo Ali dan Dullah yang bersembunyi di hutan, melarikan diri sebab dikejar-kejar oleh pasukan Kavaleri Belanda. Karena kelaparan dan kelelahan, mereka tak mampu lagi berlari. Akhirnya, Belanda menemukan mereka terkapar tak berdaya. Mereka gugur ditembak musuh dari jarak dekat.

Setelah 17 hari Siti dan Rasyid dalam pelarian, situasi di Manggopoh semakin tak menentu. Mereka mendengar bahwa rakyat semakin sengsara karena tekanan Belanda dalam upaya menangkap mereka berdua. Tak tega dengan keadaan ini, mereka akhirnya bersepakat untuk menyerahkan diri.

Mereka lalu menemui wali nagari Bawan untuk menyerahkan diri. Di sepanjang jalan, mereka saksikan warga Bawan menutup rapat pintu rumah mereka karena ketakutan. Mereka bertemu Djunis, warga Bawan, yang ternyata pernah belajar ilmu silat kepada Rasyid di Masang. Mereka tinggal sehari di rumah Djunis. Keesokan harinya mereka ke kantor wali nagari Bawan.

Ternyata tentara Belanda sudah menunggu di sana. Ketika mereka hendak diborgol, wali nagari mencegah karena hal itu dapat memicu kemarahan warga Manggopoh dan sekitarnya. Pada pukul 12.00, mereka bersama Dalima dalam gendongan Siti, diangkut ke Lubuk Basung dengan pengawalan ketat pasukan Belanda. Ternyata orangtua dan anak sulung mereka, Yaman, sudah lebih dulu berada di sana.

Akhirnya untuk sementara mereka ditahan di Lubuk Basung. Setelah mendekam di tahanan selama 14 bulan, Siti dan kedua anaknya dipindahkan ke penjara Pariaman. Delapan belas bulan kemudian mereka dipindahkan lagi ke penjara Padang. Setelah 12 bulan di penjara di Padang, Rasyid dibuang ke Manado, Siti yang juga minta dibuang bersama suaminya ke Manado, malah dibebaskan dengan alasan punya anak kecil. Sejak saat itulah tak terdengar lagi genderang perang di Manggopoh. Siti tinggal di rumah mengasuh anaknya, Dalima, yang tak lama kemudian meninggal.

Tahun 1960, Kepala Staf Angkatan Bersenjata, Jenderal Nasution mengalungkan penghargaan negara kepada Siti. Acara ini bertempat di balai nagari. Sang Jenderal bahkan sempat membopong dan mencium wajah tua Siti, yang di hari-hari tuanya sering dipanggil Mande (Ibu) Siti.

Empat tahun kemudian, yakni tahun 1964, Pemerintah RI menggelari Siti Manggopoh sebagai pahlawan perintis kemerdekaan RI. Setahun kemudian, tepatnya pada 22 Agustus 1965, sang pahlawan pun wafat dalam usia 85 tahun di rumah salah seorang cucunya di kampung Gasak, Kabupaten Agam. Almarhumah dimakamkan di taman makam pahlawan Padang. Riwayat perjuangannya tersimpan di museum Adityawarman dan Gedung Wanita Rochana Koeddoes, Padang.

Siti Manggopoh juga dinobatkan sebagai pendekar silat Minang oleh Satria Muda Indonesia. Gelar tersebut sebagai penghormatan terhadap kiprah Siti yang juga dikenal sebagai pesilat tangguh sejak remaja. Selain itu, Siti juga membangun gelanggang persilatan di Tanah Nagari Manggopoh.

LEAVE A REPLY

ten + eleven =