Permainan Ular Naga, Permainan Tradisional Anak Jakarta

oleh Siti Muniroh

458
Permainan Ular Naga (Foto: permainan-tradisional.com)

1001indonesia.net – Dunia gawai yang berkembang pesat saat ini banyak mengubah cara hidup manusia.  Kita menjadi sibuk sendiri-sendiri dengan gawai yang kita genggam. Tak ketinggalan pula anak-anak, terutama yang tinggal di kota-kota besar, turut mengalami hal ini.

Sempitnya lahan perkotaan membuat anak-anak tidak mempunyai tempat yang memadai untuk bermain. Padahal mereka memerlukan ruang yang cukup untuk mengeksplorasi mata dan gerak tubuh sehingga mereka dapat menjadi anak-anak yang sehat jasmani dan rohani. Sebagai gantinya, para orangtua memberi anak-anak mereka gawai sebagai sarana bermain.

Namun, banyaknya waktu yang digunakan anak-anak dengan gawai menimbulkan masalah baru. Dengan gawai, permainan dapat dilakukan sendiri tanpa kehadiran teman. Lambat-laun, hal ini mengondisikan mereka menjadi pribadi yang individualis. Mereka menjadi enggan berkomunikasi dengan sesama dan juga dengan alam sekitar. Padahal bersosialisasi itu penting bagi perkembangan anak.

Di Jakarta tempo dulu, lahan masih tersedia. Anak-anak pun dapat bersosialisasi satu sama lain melalui berbagai permainan yang mereka lakukan bersama-sama. Salah satunya adalah permainan ular naga. Permainan tradisional ini harus dilakukan secara berkelompok dengan jumlah peserta lebih dari empat. Semakin banyak yang bermain, semakin seru permainan.

Permainan ular naga dimainkan oleh sedikitnya 5 anak. Lebih banyak akan lebih meriah. Rata-rata pemainnya berumur  5–12 tahun. Lahan yang dibutuhkan adalah lahan yang luas karena permainannya adalah barisan anak yang berputar ke sana kemari laiknya seekor ular naga. Biasanya permainan ini dilakukan di sore hari atau malam hari, terutama saat bulan purnama.

Cara Bermain

Anak-anak berkumpul menjadi satu barisan. Di antara mereka, dipilih tiga orang anak yang tubuhnya besar dan tangkas berbicara. Salah satu daya tarik permainan ini ada dalam dialog yang mereka lakukan. Dua dari mereka akan menjadi “gerbang”. Satunya lagi menjadi “induk” bagi barisan anak-anak lainnya.

Anak-anak berbaris dengan memegang “buntut” (baju atau pun pinggang anak yang di depannya). “Induk” berada paling depan di dalam barisan. “Gerbang” lantas dibuat oleh dua orang anak yang telah terpilih tadi. Mereka berdiri berhadapan, menaikkan tangan masing-masing, dan saling menggenggam membentuk  terowongan yang akan dilintasi oleh barisan anak-anak.

Barisan mulai bergerak seiring dengan lagu yang mereka nyanyikan bersama. Gerakan melingkar ke sana ke mari. Ular naga (barisan anak-anak) akan berjalan melewati “gerbang” yang berdiri di tengah-tengah halaman dengan iringan lagu yang dinyanyikan bersama.  Saat dendang lagu habis, anak yang berada di barisan paling belakang “ditangkap” oleh “gerbang”.

Sang “induk” —dengan anak-anak yang masih setia berbaris di belakangnya—akan berdialog dan berbantah-bantahan dengan “gerbang” perihal anak yang ditangkap. Dialog ini sering kali seru dan lucu, terutama bagi anak-anak yang masih kecil. Berada di dalam barisan anak-anak pun, bagi anak-anak usia 5 tahun hingga sedikit ke atasnya, sudah menyenangkan bagi mereka. Sering kali perbantahan ini membuat anak-anak ini saling tertawa.

Sampai pada akhirnya, apabila “induk” menang dalam perbantahan dengan “gerbang”, maka ia dapat mengambil kembali si anak yang tertangkap. Namun, bila ia kalah, maka si anak akan ditempatkan di belakang salah satu “gerbang” berdasarkan pilihannya.

Permainan pun dilanjutkan kembali dengan mengulang lagu dan barisan berputar ke sana kemari. Berputarnya pun tidak mesti sama dengan putaran permainan pertama. Hal ini tergantung kepada anak yang berada paling depan dari barisan serta syair lagu yang dinyanyikan (di mana ular naga akan melewati gerbang). Saat syair lagu telah habis dinyanyikan, ada lagi anak yang paling belakang tertangkap.

Demikianlah permainan ini dilakukan seterusnya sampai sang “induk” kehabisan anak. Permainan pun dengan demikian usai dengan sendirinya. Terkadang menjadi bubar begitu saja ketika orangtua mereka memanggil untuk pulang karena malam sudah larut.

Lagu

Lagu yang dinyanyikan cukup sederhana. Berikut syairnya:

Ular naga panjangnya bukan kepalang
Menjalar-jalar selalu kian kemari
Umpan yang lezat, itu yang dicari
Kini dianya yang terbelakang

Syair di atas didendangkan oleh ular naga sambil bergerak melingkar ke sana kemari. Pada saat barisan menerobos “gerbang”, barisan berucap “kosong – kosong – kosong” berkali-kali hingga seluruh barisan lewat, dan mulai lagi menjalar dan menyanyikan lagu di atas. Demikian dilakukan sampai dua atau tiga kali.

Pada kali yang terakhir menerobos “gerbang”, barisan mengucap “isi – isi – isi” berkali-kali, hingga akhir barisan dan anak yang berada paling akhir barisan pun ditangkap (“gerbang” menutup dan melingkari anak yang tertangkap dengan kedua tangan mereka yang saling mengait).

Dialog (Bantah-Bantahan)

Adapun dialog yang dilakukan ketika ada anak yang tertangkap, di seluruh permainan ular naga wilayah Jakarta, tidaklah baku seperti dalam dialog di bawah ini. Dialognya bisa dikembangkan tergantung kreativitas anak-anak yang lebih besar, yang telah terpilih menjadi “induk” (I) dan “gerbang” (G). Namun sebagai gambaran, dialognya kira-kira seperti ini:

I        : Mengapa anak saya ditangkap ?
G       : Karena menginjak-injak pohon jagung…
I        : Bukankah dia sudah kuberi (bekal) nasi ?
G       : Nasinya sudah dihabiskan.
G2     : (Menyeletuk) Anaknya rakus, sih…
I        : Bukankah dia membawa obor ?
G       : Wah, obornya mati tertiup angin…
I        : Bukankah …. ?
G       : ….., dan seterusnya

Sampai akhirnya di antara “induk” dan “gerbang” ada yang menyerah dalam perbantahan. Bila si induk yang menyerah, maka ia perlu meyakinkan kokohnya “penjara” yang bakal dihuni anaknya. Sang induk biasanya bertanya sambil menepuk/menunjuk salah satu lengan si “gerbang”:

I        : Ini pintu apa?
G       : Pintu besi.
I        : Yang ini? (Sambil menepuk tangan yang lain)
G       : Pintu api.
I        : Ini? (Menunjuk tangan yang lain lagi)
G       : Pintu air.
I        : Dan ini? (Menunjuk tangan yang terakhir)
G       : Pintu duri!

Ketika sang “induk” menyerah karena dinding “penjara” tak tertembus, ia pun menoleh kepada anaknya:

I        : Kau mau pilih ‘bintang’ atau ‘bulan’?
A       : Bintang.

Anak itu lantas ditempatkan di belakang salah satu “gerbang”, yang digelari ‘bintang’.

Kemudian permainan dimulai lagi.

Manfaat Permainan Ular Naga

Selain kegembiraan karena bisa tertawa bersama pada saat bantah-bantahan (yang berarti pula belajar bersosialisasi), anak pun belajar tentang patuh pada aturan (permainan) dan saling bahu-membahu agar satu sama lain tidak terlepas dan ketinggalan gerak meliuk sang ular naga. Di sini anak juga belajar mengatur emosinya untuk tetap berada dalam kekompakan.

Di dalam perbantahan, anak terkondisikan untuk kreatif berbahasa karena ia perlu untuk memunculkan kosakata baru agar satu sama lain mendapatkan anak (antara “induk” dan “gerbang”). Mereka pun belajar untuk mengatur emosi lantaran permainan ini beroperasi dalam dialog (bantah-bantahan). Ada yang menyerah karena sudah kehabisan kosakata dalam mendapatkan anak. Juga dalam bantah-bantahan, tidak hanya “induk” dan “gerbang” yang terlibat tetapi juga anak-anak di barisan ular naga.

Misalnya pada bait berikut:

I        : Bukankah dia sudah kuberi (bekal) nasi ?
G       : Nasinya sudah dihabiskan.
G2     : (Menyeletuk) Anaknya rakus, sih….

Kata “rakus” bukan untuk menunjuk bahwa anak yang tertangkap memang rakus, melainkan suasana canda-gurau. Pun bila si anak menjadi tersinggung, maka anak-anak yang lain akan memberitahukan anak tersebut bahwa kondisinya adalah sedang bermain.

Permainan ular naga, selain tak berbiaya, tentu saja melatih kondisi motorik anak karena ia akan bergerak ke sana kemari berolah raga bersama.

LEAVE A REPLY

thirteen + four =