Pasar Baru, Pusat Pemberlanjaan Tua di Ibu Kota Jakarta

148
Foto: Wikipedia

1001indonesia.net – Pasar Baru yang didirikan sekitar tahun 1820 dikenal sebagai pusat perdagangan VOC. Namanya diwariskan sejak zaman VOC, dengan ejaan Passer Baroe atau De Niewuw Markt dalam bahasa Belanda.

Dinamakan Passer Baroe karena saat itu, VOC ingin mendirikan sebuah pasar baru untuk melengkapi dua pasar lainnya yang telah lebih dulu ada di Batavia, yakni Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang. Kedua pasar tersebut dibangun sekitar tahun 1730-an.

Dulu, orang-orang yang berbelanja di Passer Baroe adalah orang Belanda yang tinggal di Rijswijk (sekarang Jalan Veteran). Saat itu, kawasan tersebut merupakan tempat tinggal keluarga kaya di Batavia.

Arsitektur bangunan salah satu pasar tradisional tertua di Jakarta ini bergaya Tiongkok-Eropa. Ini dikarenakan dulunya kawasan sekitarnya merupakan perkampungan Tionghoa. Kesan klasik Pasar Baru masih bisa kita saksikan sekarang melalui pintu gerbangnya yang unik dan tinggi menjulang.

Menariknya, sejak dulu, nilai lebih dari pedagang Pasar Baru adalah mampu memenuhi pesanan konsumen dengan cepat. Hal ini dapat diketahui dari buku Indrukken van eek Totok, Indische type en schetsen yang ditulis Justus van Murik.

Dalam buku tersebut, Justus menceritakan salah satu pengalamannya ketika memesan sepatu kepada salah satu perajin sepatu di Passer Baroe bernama Sapie Ie. Saat itu, pria kebangsaan Belanda ini mendapatkan undangan Gubernur Jenderal van der Wijck untuk menghadiri pesta dansa. Karena itu, ia perlu segera mendapatkan sepatu berkualitas dan elegan.

Namun, Justus tak punya banyak waktu untuk mendapatkan sepatu yang ia inginkan. Beruntung sang perajin sepatu berdarah Tionghoa tersebut berhasil menyelesaikan sepatu pesanan Justus dalam waktu singkat. Hanya dalam hitungan jam, sepatu selesai dibuat sesuai yang diinginkan Justus.

Tak hanya pedagang sepatu, hingga kini strategi pemasaran seperti yang dituturkan Justus masih menjadi nilai tambah dari para pemilik toko di Pasar Baru, termasuk toko tekstil dan jasa penjahit pakaian. Klaim pesan pagi selesai sore menjadi hal yang biasa di Pasar Baru.

Biasanya pedagang tekstil dan jasa penjahit pakaian di Pasar Baru didominasi pedagang keturunan India. Orang-orang India dari Bombay dan Kalkuta berimigrasi ke Batavia, seiring kekuasaan Inggris di Jawa (1811-1815).

Lalu pada 1930-an jumlah kedatangan mereka meningkat dan terus melonjak pada 1947 hingga 1950-an, ketika terjadi perpecahan di India yang melahirkan negara baru Pakistan.

Tata letak Pasar Baru sejak dulu didesain seperti bulevar yang memprioritaskan pejalan kaki sehingga aktivitas berbelanja pun lebih nyaman karena tidak dipenuhi dengan kendaraan yang parkir.

Pengunjung cukup berjalan kaki di kawasan ini sambil menyusuri lorong-lorong beralaskan paving block dengan pemandangan etalase toko di sebelah kiri dan kanan.

Di Pasar Baru juga terdapat sebuah masjid unik, namanya Masjid Lautze. Masjid yang dibangun pada 1991 oleh Yayasan Haji Karim Oei ini berinterior Tionghoa. Lokasinya terletak di Jalan Lautze 87-89. Masjid yang menempati bangunan ruko itu proses renovasinya diresmikan BJ Habibie pada Februari 1994.

Sejak zaman penjajahan Belanda hingga Indonesia merdeka, Pasar Baru menjadi salah satu pusat aktivitas perdagangan di Jakarta. Sayangnya, sejak merebaknya pusat-pusat perdagangan modern dan berkembangnya transaksi online, gema Pasar Baru tidak lagi sekeras dulu.

Untuk melindungi dan mengembangkan bangunan bersejarah ini, Pemerintah DKI Jakarta menetapkan Pasar Baru dan kawasan sekitarnya sebagai kawasan belanja bertaraf internasional melalui SK Gubernur No. 3048 tahun 2000.

LEAVE A REPLY

3 × four =