Mengenal Kartosuwiryo dan Cita-cita Negara Islam

oleh Husnul Amilin

197

1001indonesia.net – Berbagai gerakan yang menginginkan tegaknya Islam sebagai dasar negara Indonesia, seperti yang dicontohkan oleh HTI, bukanlah hal baru. Dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia, kita sudah mengenal gagasan yang bahkan lebih ekstrem daripada itu. Gagasan yang dimaksud adalah tegaknya Negara Islam Indonesia. Pelopor gagasan ini bernama Kartosuwiryo.

Nama lengkapnya adalah Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, sering kali disingkat dengan S.M. Kartosoewirjo, dan lebih akrab disebut dengan nama Kartosoewirjo atau Kartosuwiryo saja.

Pria kelahiran Cepu, 7 Januari 1907 ini merupakan penggagas utama berdirinya Indonesia sebagai negara Islam. Sekalipun ia mati di tangan regu tembak pada 5 September 1962, tetapi cita-citanya tak pernah mati dan bahkan sering menghantui keutuhan NKRI sampai saat ini.

Kartosuwiryo memulai jenjang pendidikannya di Inlandsche School der Tweede Klasse di Cepu. Ia kemudian melanjutkan ke Hollands Inlandsche School. Ayahnya seorang pegawai pemerintah Belanda. Ia sering pindah tempat tinggal karena jabatannya itu.

Sebab itu, pada 1919, atas tuntutan pekerjaan ayahnya, Kartosuwiryo pindah ke daerah Padangan, Bojonegoro, Jawa Timur dan melanjutkan sekolah di Europeesche Lagere School, sekolah elite anak-anak Belanda yang terbuka untuk anak-anak pribumi cerdas dan keturunan pejabat pemerintah. Selebihnya, ia sekolah di Nederlandsch Indische Artsen School, sekolah kedokteran Belanda di Surabaya.

Rekam jejak pendidikan Kartosuwiryo menunjukkan bahwa ia bukanlah pribadi yang khusus mempelajari Islam dan segala keilmuan yang berkembang di dalamnya. Jauh berbeda jika dibandingkan dengan tokoh Islam lainnya seperti Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama), ataupun tokoh Muslim seperti Wahid Hasyim.

Kartosuwiryo belajar Islam dari kiai-kiai lokal, seperti Notodihardjo, salah seorang aktivis PSII yang bergabung dengan Muhammadiyah di Bojonegoro. Selebihnya, imam NII ini berguru kepada H.O.S Tjokroaminoto. Mungkin inilah alasan Deliar Noer menyebut bahwa gagasan Negara Islam Indonesia yang diproklamirkan hanyalah wujud kekecewaannya atas perjanjian Renville, bukan karena faktor ideologis.

Perjanjian Renville terjadi antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Belanda pada Januari 1948. Salah satu poinnya adalah Indonesia harus menyerahkan sebagian besar wilayah Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sumatera kepada Belanda. Akibatnya, pasukan Divisi Siliwangi, yang menjadi kebanggaan masyarakat Jawa Barat pun harus angkat kaki dan pindah ke Yogyakarta.

Kartosuwiryo kecewa dengan kesepakatan yang dibuat oleh pemerintah Indonesia dan pemerintah Belanda ini. Tak hanya itu, dia beranggapan bahwa pemerintah Indonesia telah meninggalkan rakyat Jawa Barat karena telah menarik pasukan divisi Siliwangi dari wilayah ini.

Kekecewaan inilah, yang kabarnya menjadi alasan utama dirinya untuk memproklamirkan gerakan pemberontakan melawan pemerintah serta menawarkan konsep negara Islam sebagai jalan tengah, agar terhindar dari pergulatan internasional antara Rusia dan Amerika.

Perlu diketahui bahwa Kartosuwiryo (penggagas ide Negara Islam Indonesia) bukanlah penganut Islam tulen. Bahkan menurut Bahtiar Effendy, ia lebih pantas disebut sabagai abangan[1]. Klaim ini dikuatkan dengan praktik-praktik sang Imam (sebutan untuk Kartosuwiryo bagi para pengikutnya) seperti bertapa di Gunung Kidul, Yogyakarta.

Tak hanya itu, ia sering kali membawa dua benda pusaka di mana pun dan dalam kondisi apa pun. Dua benda pusaka itu adalah keris Ki Dongkol dan pedang Ki Rompang.

Rahasia Ki Dongkol dan Ki Rompang

Ada keyakinan yang berkembang di tengah masyarakat Jawa Barat bahwa siapa pun yang bisa menyatukan dua senjata pusaka, yaitu keris Ki Dongkol dan pedang Ki Rompang, akan menjadi Ratu Adil dan semua garis perjuangannya akan berakhir pada kemenangan.

Selain sebagai Ratu Adil, oleh para pengikutnya, Kartosuwiryo juga disebut dengan julukan Imam Mahdi, Sultan Heru Tjokro, dan Satria Sakti. Bahkan, sosok Kartosuwiryo sering kali dikaitkan dengan ramalan Jayabaya tentang orang yang akan menyelamatkan umat manusia.

Rupanya, kepercayaan tentang keampuhan Ki Dongkol dan Ki Rompang yang mengakar kuat di tengah masyarakat Jawa benar-benar dimanfaatkan secara baik oleh Kartosuwiryo untuk menggalang massa. Jumlah pengikut gerakannnya, bahkan saat ia ditangkap oleh tentara, sekitar 5.000 orang. Jumlah ini pun terhitung setelah terjadinya penyusutan yang cukup besar dalam tubuh gerakan ini akibat tekanan dari tentara nasional dan operasi pagar betis.

Saat ia ditangkap, dua benda pusaka ini terbukti ada bersama dirinya. Salah seorang pengikutnya yang bernama Bajuri bahkan mengatakan bahwa Ki Dongkol dan Ki Rompang tidak pernah terpisah dari sang imam. Di mana ada Kartosuwiryo, maka di situ ada Ki Dongkol dan Ki Rompang. Terakhir, kedua benda pusaka itu sempat dipamerkan oleh Kodam VI Siliwangi pada acara Usaha Pemulihan Keamanan di Bandung.

Kartosoewirjo dan Gerakan Keislaman Masa Kini

Gerakan Darul Islam (DI) yang dibangun oleh Kartosuwiryo dan cita-cita negara Islam yang diusungnya merupakan gerakan keislaman di awal-awal lahirnya Indonesia. Seperti yang sudah diuraikan sebelumnya bahwa gerakan ini bukanlah gerakan yang bangkit dan berkembang atas dasar ideologi yang kuat. Melainkan lebih kepada kekecewaan pemimpinnya atas kebijakan pemerintah Indonesia dengan Belanda yang dianggap merugikan rakyat Indonesia.

Di masa sekarang, gerakan-gerakan atas nama Islam juga hidup dan berkembang di negeri ini. Pertanyaan yang perlu ditekankan terkait fenomena ini adalah, “Apakah Islam benar-benar menjadi penyebab utama gerakan-gerakan tersebut ataukah hanya menjadi alat perjuangan saja?”

Dengan kata lain, “Apakah gerakan-gerakan keislaman itu benar-benar memiliki akar ideologi yang kuat atau hanya sekadar alat untuk meraih dukungan massa rakyat yang kebetulan mayoritasnya menganut agama Islam?”

 

[1] Istilah islam abangan seringkali dibandingkan dengan islam santri. Selain itu, abangan juga kerapkali dinisbatkan kepada penganut Islam jawa yang memadukan unsur mistis daerah dengan ajaran-ajaran keislaman.

LEAVE A REPLY

17 − 8 =