Masjid Agung Palembang, Simbol Kerukunan di Bumi Sriwijaya

31
Sumber: fotopalembang.com

1001indonesia.net – Masjid Agung Palembang atau Masjid Sultan Mahmud Badaruddin I mencerminkan semangat kerukunan yang dimiliki masyarakat Palembang. Semangat untuk hidup secara harmonis dalam masyarakat yang beragam itu tampak dari bangunan masjid yang mencerminkan adanya bauran budaya. Arsitektur masjid merupakan hasil perpaduan empat etnis yang banyak bermukim di kota Palembang saat berdirinya masjid ini.

Masjid Agung Palembang dibangun oleh Sultan Mahmud Badaruddin I Jaya Wikrama pada 1738. Masjid terbesar di Kota Palembang ini jika dipandang sekilas mirip bangunan wihara atau kelenteng. Bangunannya yang luas dengan tembok-tembok yang berukuran besar mengingatkan kita pada bangunan-bangunan peninggalan Belanda.

Pada awalnya, bangunan ini dikenal sebagai Masjid Sulton karena pembangunan dan pengelolaannya diketuai langsung oleh Sang Sultan. Arsitekturnya menonjolkan gaya Melayu Palembang dengan pengaruh budaya Jawa, China, dan Eropa. Saat masjid ini didirikan, keempat etnis inilah yang banyak mendiami kota yang terkenal dengan makanan pempek ini.

Gaya Melayu terlihat dari ragam hias sulur tanaman dan ukiran kaligrafi pada bagian ujung tritisan bangunan utama, menara, jendela, pintu, tiang, dan mihrab masjid.

Gaya Jawa tampak dari corak mahkota bunga teratai di puncak bangunan mihrab dan tiga gapura di sisi timur, utara, dan selatan masjid. Corak ini mengadopsi bentuk atap candi Hindu-Buddha di Pulau Jawa.

Gaya Tionghoa terlihat dari bentuk atap masjid yang menyerupai wihara atau kelenteng. Terdapat hiasan seperti tanduk hewan yang berjajar dari puncak hingga ujung bawah atap di setiap sisi bangunan utama dan menara masjid. Hiasan dan lengkungan di atap itu mengadopsi bentuk atap rumah ataupun rumah ibadah di negeri tirai bambu.

Sementara gaya Eropa tampak dari penggunaan teknologi batu bata dan semen pada fondasi, lantai, dan dinding Masjid Agung Palembang. Pintu masuk masjid gedung baru masjid yang besar dan tinggi juga mencerminkan arsitektur gaya Eropa.

Arsitektur dengan perpaduan banyak budaya sengaja dipilih Sultan karena menyadari adanya keberagaman etnis dan budaya dalam masyarakat Palembang saat itu. Sultan ingin perbedaan tersebut tidak menjadi masalah. Masyarakat tetap hidup rukun dan menjaga hubungan yang harmonis.

Tidak hanya di Palembang. Di banyak tempat di Nusantara, masjid dibangun dengan arsitektur hasil perpaduan berbagai budaya. Ini tidak lepas dari kesadaran dan sikap bijaksana para penyebar agama Islam di Nusantara.

Masuknya Islam ke Nusantara tidak dengan cara memaksa dan menghapuskan budaya-budaya yang sudah ada, tetapi dengan cara membaur dan menyatu dengan kebudayaan-kebudayaan tersebut.

Sejak pendiriannya, bangunan masjid telah mengalami beberapa kali pemugaran. Renovasi terakhir dilakukan tahun 2000 dan selesai tahun 2003, menghasilkan bentuk bangunan yang sekarang. Dalam prosesnya, terjadi penambahan tiga bangunan baru, yaitu bangunan di bagian selatan masjid, di bagian utara, dan bagian timur. Kubah masjid juga mengalami perbaikan di berbagai sisinya.

Bangunan yang berlokasi di Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Ilir Barat I, Kota Palembang, Sumatera Selatan ini kemudian diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri. Mengingat sifat historisnya, Masjid Agung Palembang juga ditetapkan sebagai cagar budaya yang dilindungi pemerintah.

LEAVE A REPLY

1 × four =