KH Wahid Hasyim dan Pandangannya dalam Melihat Perbedaan dan Keberagaman

oleh Husnul Amilin

165

1001indonesia.net – KH Wahid Hasyim atau yang akrab disapa Gus Wahid lahir pada 1 Juni 1914 dari rahim seorang perempuan bernama Nafiqoh. Ayahnya adalah seorang ulama terkemuka, pendiri organisasi terbesar di Indonesia, KH Hasyim Asy’ari.

Wahid tidak hanya dikenal sebagai putra kiai besar, tapi juga dikenal sebagai seorang reformis, pembaru pesantren Tebuireng-Kediri dan pendidikan Islam di Indonesia. Ialah tokoh yang memasukkan nilai-nilai kemodernan dalam lingkungan Pesantren Tebuireng waktu itu. Bahkan, ia memasukkan bahasa asing, seperti Belanda, Inggris, ataupun Jerman, yang pada masa itu dianggap sebagai bahasa ‘kafir’ ke dalam kurikulum pengajaran di pesantrennya.

Sebagai salah satu tokoh Muslim terkemuka pada masanya, Gus Wahid memiliki andil yang cukup besar dalam membangun jalan setapak bagi negeri ini menuju gerbang kemerdekaan. Jasanya yang sangat besar pada Indonesia, membuat banyak orang benar-benar merasa kehilangan saat Gus Wahid meninggal pada 18 April 1953 karena kecelakaan.

Surat kabar Harian Umum, edisi 20 April 1953, saat mengomentari berita wafatnya Wahid mengatakan, “Kesan umum merata, ialah: Indonesia kehilangan seorang besar dalam arti kata yang luas. Dan kalau dikatakan bahwa segala perkataan atau perbuatannya tidak disertai pamrih, kira-kira saja tiada seorang pun yang akan membantahnya.”

Semasa hidupnya, Wahid dikenal sebagai sosok yang terbuka, ramah, dan tidak anti terhadap perbedaan. Baginya, perbedaan tidak lantas menjadikan orang bermusuhan. Sikap inilah yang kemudian ia terapkan saat terjun ke dunia politik. Di saat NU melepaskan diri dari Masyumi, Wahid tetap menganggap para tokoh partai politik Islam tersebut sebagai teman. Karena sikapnya itu, ia pun disegani oleh para tokoh politik lainnya.

Pandangan hidup yang ramah terhadap perbedaan ini sudah muncul bahkan sejak Wahid memasuki usia remaja. Pernah suatu ketika ia membuat heboh para santri di Pesantren Tebuireng. Para santri waktu itu, terbiasa menggunakan sarung dan pakaian muslim khas anak santri. Tapi, Wahid justru menanggalkan sarungnya dan tampil menggunakan celana panjang, pakaian yang bahkan oleh ayahnya sendiri enggan digunakan atau bahkan ditolak.

Terang saja, sikap Wahid ini mendapat teguran langsung dari sang ayah. Tapi Wahid tetap bersikukuh dengan pendapatnya, sambil mengatakan bahwa memakai celana panjang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Akhirnya, KH Hasyim Asy’ari pun mengalah dan membiarkan Gus Wahid bergaya dengan caranya sendiri.

Di mata anak-anaknya, Wahid dikenal sebagai sosok yang sangat demokratis. Ia tidak pernah memaksakan pendapatnya kepada anak-anak. Semua anak-anaknya, termasuk Abdurrahman Wahid (Presiden RI ke-4) dan Salahuddi al-Ayyubi (Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng) tidak pernah diwajibkan belajar di pesantren. Mereka bebas menentukan model pendidikan seperti apa yang diinginkan.

Bahkan, dari enam orang anaknya, hanya Gus Dur saja (panggilan untuk Abdurrahman Wahid) yang pernah merasakan belajar di bangku pesantren, termasuk Pesantren Krapyak dan Tebuireng. Itu pun terjadi karena pilihan Gus Dur sendiri, bukan karena desakan sang ayah.

Salahuddin, putra ketiga Wahid, sempat mengatakan bahwa ayahnya kerap kali mengajak anak-anaknya berkunjung ke rumah para tokoh politik, baik itu politisi dari partai Islam seperti Mohammad Natsir dan Prawoto Mangkusasmito atau pun para politisi yang berbeda aliran dengannya seperti Mohammad Yamin dan Mr Sartono (tokoh politik dari kalangan nasionalis).

Mungkin, model didikan yang sangat demokratis dan terbuka inilah yang membuat anak-anaknya tumbuh menjadi para tokoh Islam yang terbuka (inklusif). Gus Dur misalnya, bahkan dikenal hingga kini sebagai bapak pluralisme, karena selalu mengedepankan persatuan dalam perbedaan, serta mengecam kelompok-kelompok yang anti terhadap perbedaan dan keberagaman.

Apa yang dicontohkan oleh Wahid Hasyim ini memang sangat menarik dan terasa begitu segar jika dikaitkan dengan kondisi bangsa saat ini yang tengah mengalami krisis kebinekaan. Banyak orang sibuk mengedepankan ego kelompoknya masing-masing, sehingga lupa bahwa Indonesia dulunya berhasil tercipta karena persatuan.

Tanpa adanya persatuan dari setiap kelompok, adalah hal yang mustahil untuk lepas dari kungkungan Belanda ataupun Jepang. Maka di saat seperti inilah, ada baiknya jika kita kembali menengok teladan yang dicontohkan oleh para pendahulu kita, salah satunya adalah KH Wahid Hasyim.

LEAVE A REPLY

1 × 4 =