Kelenteng Sam Po Kong Semarang, Akulturasi Budaya China dan Jawa

39
Kelenteng Sam Po Kong Semarang (Foto: onejogja.com)

1001indonesia.net – Banyak sekali bangunan bersejarah di Indonesia merupakan hasil dari bauran berbagai budaya. Selain mencerminkan adanya dialog antarbudaya, ini juga menggambarkan bahwa di masa silam bangunan tidak sekadar fungsional. Bentuk bangunan juga mencerminkan pandangan hidup penggunanya yang merupakan kristalisasi dari pengalaman hidup dan budayanya.

Sebab itu, bangunan bersejarah kaya akan simbol dan makna. Kekayaan ini semakin diperkuat dengan adanya akulturasi budaya yang menandakan beragamnya budaya yang hidup pada masa bangunan tersebut didirikan.

Relasi yang harmonis antarbudaya kemudian menghasilkan kebudayaan yang sangat menawan. Salah satunya seperti yang tercermin pada Kelenteng Sam Po Kong atau Kelenteng Gedong Batu di Semarang.

Kompleks Pemujaan

Kompleks Kelenteng Sam Po Kong berada di jalan Simongan Raya, di sebelah barat daya Kota Semarang, Jawa Tengah. Konon kelenteng ini merupakan tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang laksamana muslim asal Tiongkok bernama Sam Po Tay Djien (Zheng He atau Cheng Ho).

Kompleks kelenteng ini terdiri atas sejumlah bangunan yang digunakan sebagai tempat pemujaan, yaitu Kelenteng Besar, Gua Sam Po Kong, Mbah Kyai Juru Mudi, Kelenteng Tho Tee Kong, Kyai Jangkar Rumah Abu Hoping, Kyai Cundrik Bumi, Mbah Kyai Tumpeng.

Klenteng Hok Tik Tjeng atau Tho Pee Kong merupakan kelenteng tua untuk pemujaan Dewa Bumi. Kelenteng ini menjadi tempat peziarah untuk memohon berkah dan keselamatan.

Tempat pemujaan Kyai Cundrik Bumi merupakan sebuah petilasan tempat awak kapal Cheng Ho menyimpan segala macam senjata.

Kyai Jangkar Rumah Abu Hoping merupakan tempat sebuah sauh yang dipercaya berasal dari kapal Cheng Ho dipuja. Tempat ini dimanfaatkan juga sebagai tempat mendoakan arwah Ho Ping atau arwah yang keluarganya tidak diketahui atau tidak mempunyai keluarga agar mendapatkan tempat di alam sana.

Adapun makam Mbah Kyai Juru Mudi merupakan tempat di mana juru kemudi kapal Cheng Ho yang bernama Wang Jinghong atau Dampo Awang dikebumikan.

Sementara tempat pemujaan Mbah Kyai Tumpeng merupakan tempat anak buah Cheng Ho bersantap di masa silam.

Di antara semua bangunan, Kelenteng Besar dan gua merupakan bangunan yang paling penting dan menjadi pusat seluruh kegiatan pemujaan. Gua yang memiliki mata air yang tak pernah kering ini dipercaya sebagai petilasan Sam Po Tay Djien atau Laksamana Cheng Ho. Di dalamnya terdapat altar dan patung Sam Po Tay Djien sebagai sarana pemujaan.

Arsitektur

Bangunan kelenteng ini mencerminkan perpaduan budaya Tionghoa dan Jawa. Desain atap kelenteng ini berbentuk limasan yang merupakan bentuk atap tradisional rumah Jawa. Bentuk atap bertumpuk dan curam menggambarkan sikap hidup orang Jawa yang selalu nrimo (pasrah) dan rendah hati.

Bangunan kelenteng mirip dengan rumah joglo yang tidak mempunyai sekat dinding. Dalam tradisi Jawa, rumah joglo biasanya merupakan rumah para bangsawan. Unsur Jawa juga kuat pada bagian bangunan lain, seperti adanya pahatan atau hiasan batu yang mengingatkan kita pada candi-candi Hindu-Buddha di Jawa.

Unsur China pada Kelenteng Sam Po Kong terlihat ujung atap yang meruncing naik. Bentuk ini menggambarkan sikap hidup orang Tionghoa yang selalu bersemangat, baik dalam bekerja maupun belajar. Juga gambaran bagaimana orang Tionghoa dalam kehidupan selalu berusaha mengejar yang terbaik.

Bangunan yang bernuansa merah menyala semakin menambah kentalnya unsur China. Bagi orang Tionghoa, warna merah melambangkan keberuntungan.

Unsur Tionghoa juga terlihat pada ornamen relief naga, burung hong, dan kura-kura pada tiang struktur dan di alas patung. Ketiga hewan tersebut dipercaya sebagai makhluk langit pembawa berkah.

Kelenteng ini unik karena konstruksi balok penopang atapnya dibangun tanpa kuda-kuda ini. Unsur Islam juga mewarnai kelenteng ini mengingat tempat ini merupakan petilasan Lasamana Cheng Ho yang beragama Islam.

Pengaruh Islam tampak pada altar yang menghadap ke tenggara sehingga umat yang beribadah menjadi menghadap barat laut. Dalam kepercayaan muslim, barat laut berarti menghadap ke Mekkah. Corak Islam juga terlihat pada bagian langit-langit yang memiliki warna hijau dan adanya beduk di kelenteng ini.

Di depan kelenteng, terdapat patung Laksamana Cheng Ho setinggi 10,7 meter. Patung ini berbahan perunggu.

Cheng Ho yang dipercaya beragama Islam membuat kelenteng ini tidak hanya menjadi tempat perziarahan umat Tridharma, tetapi juga umat Muslim.

Kelenteng ini banyak dikunjungi orang, terutama saat acara-acara penting, seperti saat Imlek dan saat festival Peringatan Cheng Ho ke Semarang yang digelar antara Juli hingga Agustus setiap tahunnya. Pada saat itu, suasana kelenteng akan lebih meriah.

LEAVE A REPLY

1 × 3 =