Goa Gajah, Petilasan Hindu-Buddha di Gianyar

199
Foto: ibalitour.com

1001indonesia.net – Petilasan Hindu-Buddha Goa Gajah berdiri kokoh, dikelilingi area persawahan dan ngarai Sungai Petanu. Goa yang berfungsi sebagai tempat ibadah ini telah diakui UNESCO sebagai warisan dunia dalam daftar tentatif pada 19 Oktober 1995 dalam bidang kebudayaan.

Goa Gajah bukanlah goa  alami, melainkan sengaja dibuat. Fungsinya sebagai tempat ibadah. Gua ini terletak di Banjar Goa, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, sekitar 5 km dari kawasan wisata Ubud atau 27 km dari pusat kota Denpasar.

Ditemukannya Goa Gajah berasal laporan pejabat Hindia Belanda, LC. Heyting, yang menemukan arca Ganesha, Trilingga, Hariti pada 1923. Berdasarkan penemuan tersebut, pada 1925, Dr. WF. Stuterhiem mengadakan penelitian lanjutan.

Pada 1931, Mr. Conrat Spies menemukan peningalan yang cukup penting di kompleks Tukad Pangkung berupa stupa bercabang tiga yang terpahat pada dinding batu yang telah runtuh. Stupa tersebut tergeletak di dasar Tukad Pangkung.

Pada 1950, Dinas Purbakala RI melalui seksi-seksi bangunan purbakala di Bali yang dipimpin oleh J.L Krijgman melakukan penelitian. Pada penggalian yang dilakukan antara tahun 1954 sampai 1979, ditemukanlah tempat petirtaan kuno dengan 6 buah patung wanita dengan pancuran air di dada.

Kompleks Gua Gajah terdiri atas dua bagian utama yang berada di bagian utara dan selatan. Kompleks bagian utara sarat dengan situs-situs yang kental dengan ajaran Siwa. Sementara kompleks bagian selatan, yaitu area Tukad Pangkung, menunjukkan tradisi Buddha. Di sini, terdapat stupa Buddha dalam sikap Dhayni Buddha Amitabha, tersusun atas 13 stupa, serta stupa bercabang tiga yang telah disebut di atas.

Biasanya para pelancong biasanya akan mengarahkan kaki-kaki mereka lebih dulu ke kompleks utara karena jaraknya lebih dekat dengan pintu masuk. Arca-arca pancuran Widyadhari dan Widyadhara menyambut mereka. Arca-arca tersebut membawa kendi yang terletak di depan perut dengan air yang mengalir dari dalamnya.

Araca-arca itu melambangkan tujuh sungai suci di India dalam konsep sapta nadi. Kendi yang mengalirkan air terletak di dekat Rahim mereka, menyimbolkan dari sanalah kehidupan bermula.

Atraksi utama terletak pada gua buatan yang sebenarnya tidak besar. Pada mulut gua tersebut terdapat pahatan-pahatan bermotif alam. Di tengahnya terletak kepala Kala dengan mata melirik ke kanan. Fungsi relief ini diyakini sama dengan Bhoma, muka raksasa untuk menjaga bangunan suci.

Gua yang diperkirakan dibangun pada abad ke-11 M ini lembab dan temaram dengan penerangan sekadarnya. Cahaya lampu memang dibuat tidak begitu benderang karena goa ini digunakan untuk kegiatan bertapa atau berdoa. Pada bagian barat ujung gua, terletak arca Ganesha, putra Dewa Siwa yang menjadi dewa pengetahuan. Sementara itu, di ceruk sebelah timur terdapat arca Trilingga (Siwa, Sada Siwa, dan Prama Siwa).

Pengalaman berbeda akan terasa ketika kita beralih ke area selatan, yang lebih sarat dengan tradisi Buddha. Di sini, pengunjung akan menjumpai air terjun kecil dengan sungai yang jernih. Keseluruhan suasana di gua gajah akan mengajak kita untuk eling, sadar akan perlunya menjaga hubungan yang selaras dengan Tuhan, alam, dan sesama manusia. Seperti konsep yang selalu diagungkan oleh masyarakat Bali, Tri Hita Karana.

Goa ini banyak dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Karena goa ini disucikan dan digunakan sebagai tempat peribadatan umat Hindu, maka setiap pengunjung yang datang harus berpakaian sopan dan mengenakan selembar kain yang disediakan oleh pengelola.

LEAVE A REPLY

sixteen − twelve =